MER-C

28 Februari 2009

Menjelang Bapak Meninggal

Aku, suami dan anak-anak belum pernah pergi berlibur ke kampung halaman sendiri-sendiri. Biasanya kami berlibur bersama-sama. Aku agak kaget waktu suamiku mengijinkan aku dan anak-anak untuk berlibur ke kampung halamanku. Bahkan suamiku sudah membelikan tiket untuk aku dan tiga anakku. Aku sedih bercampur bahagia, sedih karena akan meninggalkannya sendirian untuk beberapa hari atau mungkin beberapa minggu, bahagia karena dapat menengok orang tua yang sudah tua. Anak-anak senang sekali akan berlibur di rumah Mbahnya. Beberapa hari sebelumnya waktu saya telepun Bapak, Bapak berkata bahwa beliau baru mau berobat ke dokter. Bapak ingin saya dan anak-anak dapat berlibur ke kampung halaman.

Hari keberangkatan tiba. Saya dan anak-anak bersiap-siap. Tidak banyak baju ganti yang dibawa, saya tidak tega meninggalkan suami sendirian terlalu lama. Pikir saya beberapa hari sajalah saya dan anak-anak di kampung halaman. Saya dan anak-anak sudah siap berangkat tatkala suami bilang bahwa kami boleh berlibur di kampung selama dua minggu dan suami bilang bahwa waktu dua minggu sudah cukuplah untuk berlibur dan kangen-kangenan sama orang tua dan keluarga. Saya tertegun, dalam hati saya berkata apakah dua minggu tidak terlalu lama, apakah suami tidak akan kangen sama saya dan anak-anak. Saya mengiyakan. Suami mengantar kami berangkat ke agen bus Ramayana di Bekasi Timur. Anak-anak gembira.

Bus Ramayana berangkat jam 16.00 jadi kami tidak langsung naik ke bus. Kami duduk sebentar di ruang tunggu sambil bercanda. Menjelang keberangkatan kami naik ke bus, termasuk suami. Suami berpesan supaya hati-hati di jalan dan hati-hati menjaga anak-anak. Saya jadi sedih karena akan meninggalkan suami sendirian. Dan ternyata anak-anakpun sedih karena akan berpisah dengan ayahnya. Apalagi si kecil Safa, dia baru tahu kalau ayahnya tidak bisa ikut berlibur. Safa menangis dia ingin ayahnya ikut berlibur ke kampung. Safa tidak memperbolehkan ayahnya turun dari bus. Setelah dijelaskan bahwa ayah tidak bisa ikut liburan karena harus bekerja, baru dia mau melepaskan suamiku dari pegangannya. Suamiku mengucap salam lalu turun dari bus, kami membalasnya. Bus berangkat membawa kami diiringi lambaian tangan suami dan tatapan sayangnya. Kami semua sedih berpisah dengannya.

Selasa, pukul 04.00, kami tiba di Muntilan kota kecil di dekat candi Borobudur, diantara Magelang dan Yogyakarta. Diperempatan Sayangan, bus berhenti. Kakak ipar dan keponakanku yang menjeput sudah menunggu. Merekapun segera mendekati bus yang telah berhenti, menyongsong kami tepat di depan pintu bus. Kami turun, bersalam-salaman. Anak-anak kelihatan gembira bertemu dengan Pakde dan kakak sepupunya. Segera kami naik mobil Pak de, panggilan kami untuk kakak ipar dan langsung menuju rumah orangtua, di sebuah kampung, di utara kota, di pinggir jalan tembus Muntilan - Boyolali via Ketep Pass tempat pariwisata di lereng Gunung Merapi, Muntilan - Salatiga - Semarang via Kopeng tempat pariwisata dilereng Gunung Merbabu.

Betapa bahagianya bapak dan ibu menyambut kedatangan saya dan anak-anak. Ibu ingin kami tidur dengan ibu, bapakpun ingin kami tidur dengan bapak. Supaya dekat dengan bapak dan juga ibu kami tidur di depan kamar bapak dan ibu. Karena bapak sedang sakit perhatian saya banyak tercurah kepada bapak. Alhamdulillah anak-anak langsung akrab dengan sepupu-sepupunya jadi mereka tidak merasa terabaikan.
Bapak bercerita cukup banyak tentang sakitnya .Sebenarnya Bapak jarang sakit. Selama hidunya yang saya ketahui baru tiga kali ini Bapak sakit sampai beberapa hari. Pertama sakit kakinya karena jatuh dari tangga yang agak tinggi, kedua waktu mau berangkat melaksanakan ibadah haji dan ketiganya ini. Rencana Bapak, hari Rabu pagi ingin berobat ke rumah sakit.

Rabu pagi saya dan kakak ipar mengantar bapak ke rumah sakit, dengan mobil kakak ipar. Bapak masih kuat berjalan sendiri. Naik turun mobil sendiri. Berjalan sampai ke ruang gawat darurat. Bapak diperiksa dokter jaga sambil rebahan di tempat tidur. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, Bapak disarankan untuk rawat inap. Bapak setuju, kamipun setuju. Bapak kami antar ke ruang perawatan dengan kursi roda. Sesampai di kamar perawatan, Bapak tidak langsung tidur. Bicara-bicara dengan kami. Terima telepon kakak yang masih di Jakarta. Kami mengingatkan Bapak untuk shalat dzuhur dan kamipun shalat. Saya pamit pulang dulu karena harus mengurus anak-anak.

Ternyata menurut hasil pemeriksaan beberapa dokter ahli, Bapak terserang kanker hati dan sudah stadium akhir. Secara medis sudah tidak bisa untuk disembuhkan. Kami diberikan pilihan, merawat Bapak di rumah atau merawat Bapak di rumah sakit. Semuanya menurut medis hanya menunggu waktu kata dokter. Para dokter sudah angkat tangan. Tetapi direktur rumah sakit mempersilahkan keluarga kami kalau mau mencari pengobatan alternatif . Hanya beliau berpesan harus yang sesuai syariah, jangan sampai terjerumus ke dalam syirik. Ibu, saya dan kakak-kakakpun sepakat untuk hati-hati. Dan diputuskan untuk mencari pengobatan herbal saja.

Selama beberapa hari, kami bergiliran menunggui Bapak di rumah sakit. Karena siang hari kakak-kakak saya bekerja, saya sering kebagian menunggui bapak dari pagi sampai siang atau sampai sore. Kadang-kadang saya bawa anak-anak ke rumah sakit dengan naik mobil angkutan umum. Karena para penumpang di mobil memberi senyum pada waktu kami naik, menegur mau pergi kemana, jika ada yang turun lebih dulu mengajak mampir, anakku Lia dan Nida bertanya, "Mama kenal sama mereka?Mereka saudara kita?". Dengan tersenyum saya menjawab,"Mama tidak kenal dengan mereka Nak. Mereka juga bukan saudara kita. Disini memang masih banyak orang yang memegang adat, saling tersenyum dan menyapa kalau bertemu."Anakku begitu terkesan dengan hal itu. Sesampai di rumah sakit biasanya anak-anakku langsung menghampiri Mbah Kakungnya, mengajak bicara, mengingatkan untuk shalat, kadang-kadang sambil mengelus-elus tangan dan kaki Mbah Kakungnya. Bapak kelihatannya senang dengan kedatangan anak-anakku. Anak-anakkupun kelihatannya senang sekali diajak menunggui Mbah kakungnya. Apa lagi walaupun dalam keadaan sakit, beliau masih sempat membelikan sandal kecil yang lucu untuk cucunya, atau menyuruh membeli jajanan atau mainan yang disenangi anak-anak.

Banyak tetangga, saudara dan kenalan yang datang menengok Bapak di rumah sakit. Bapak kadang cerita kepada mereka, bahkan kadang masih sempat bercanda. Di hadapan anak dan cucunya Bapak masih memperlihatkan semangat untuk sembuh. Mau minum atau makan apa saja yang disarankan untuk pengobatan. Yang membuat kami tersenyum dan terharu adalah waktu kami beberapa anaknya bertanya, "Bapak ingin apa?". Bapak menjawab, "Ingin makan buntil isi tongkol (ini salah satu makanan khas Muntilan)". Kami tersenyum. "Wah, kalau makan itu sekarang tidak boleh, Pak. Kalau sudah sehat, baru boleh makan itu". Sambil tersenyum bapak menjawab, "Oh, itu hanya bercanda, semua keinginanku sudah terkabulkan". Pada waktu salah seorang keponakan Bapak datang, Bapak berkata,"Ya, sudahlah. Saya terima apa yang Allah kehendaki". Keponakan Bapak menanggapi, "Lo. Apa Pak Mantri tidak ingin menunggui cucu-cucunya (sampai besar)". Jawab Bapak,"Mereka sudah ditunggui orang tuanya. Orang tuanya sudah bisa mendidik mereka". Saya agak terkejut mendengar pembicaraan ini, tapi saya diam saja.

Hari itu, hari Kamis, saya sedang mendapat giliran menunggui Bapak waktu seorang perawat masuk untuk memeriksa tekanan darah. Sambil memperlihatkan pergelangan tangannya Bapak bertanya kepada perawat itu,"Mbak, coba dilihat sudah cekung ke dalam atau belum, kalau sudah berarti minta dikubur, kalau tidak sekarang ya besok". Perawat itu hanya tersenyum kebingungan, tidak bicara sepatah katapun. Saya menanggapi, " Ah , Mbah Kakung senang bercanda nih". Dan perawatpun pamit keluar. Sayapun pamit pulang setelah ada beberapa kakak yang datang, saya berjanji sama Bapak besok pagi mau menungguinya lagi.

Esok harinya, tepat sepuluh hari Bapak dirawat.Karena kasihan melihat anak-anak saya yang masih kecil-kecil, Ibu menyarankan pada saya untuk tidak ke rumah sakit dulu. Saya disuruh mengurus anak-anak saya dulu. Saya terima saran Ibu, karena saya juga merasa agak kurang sehat. Selesai shalat ashar, Wendi, keponakan saya datang menjemput Ibu, saya dan anak-anak untuk diajak ke rumah sakit. "Mbah Kakung kritis, sekarang dioksigen". Hati saya deg-degan. Saya langsung telpun kakak yang masih di Jakarta, suami saya, dan keponakan-keponakan Bapak di Yogyakarta. Kemudian kami segera berangkat ke rumah sakit.

Adik-adik ibu, kakak-kakak, keponakan-keponakan, saudara-saudara sepupu saya dan beberapa tetangga ternyata sudah pada datang. Bergantian kami mendekati Bapak, mendampinginya untuk mohon ampun kepada Allah. Sambil menahan sakit, Bapak berkata, “Kemarin yang sakit hanya perut, tetapi sekarang seluruh tubuh saya sakit. Sekarang terserah Allah saja. Apa yang dikehendaki-Nya". Saya tidak tahan melihat Bapak , saya menangis. Kakak mengingatkan, saya tidak boleh menangis. Saya elus-elus kepala Bapak, sepertinya Bapak senang.

Waktu maghrib tiba. Bapak saya ingatkan. Bapak shalat maghrib dengan berbaring, setelah tayamum. Setelah shalat Bapak dzikir. Kamipun bergiliran melaksanakan shalat maghrib. Selesai shalat, melihat kondisi ibu yang kurang sehat dan kondisi Bapak yang berangsur membaik, saya menyarankan ibu untuk pulang, beristirahat. Ibu setuju. Ibu pamit ke Bapak. Bapakpun mengijinkan sambil minta maaf kepada ibu atas semua kesalahannya. Bapak dan Ibu saling memaafkan. Kami semua terharu. Kakak ipar mendekati Bapak, atas nama kami, anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucu kakak ipar meminta maaf kepada Bapak atas kesalahan-kesalahan kami. Bapakpun memaafkan dan juga minta maaf kepada kami semua.

Ibu pulang. Bapak merasa seluruh badannya tambah sakit. Saya, kakak, bulik, mendekatinya. Saya sisir rambutnya sambil mengingatkannya untuk mohon ampun kepada Allah. Saya lihat dahi Bapak berkeringat. Saya merasa Bapak menahan sakit yang amat sangat. Saya tidak tahan. Bulik menggantikan saya mendampingi Bapak sambil membimbing Bapak tetap ingat pada Allah. Saya, beberapa kakak dan beberapa tetangga membaca Al qur'an, membaca surah Yasiin. Kami berharap pertolongan Allah. Allah memberikan yang terbaik kepada Bapak. Selesai membaca surah Yasiin, saya melihat Bapak sudah dapat tidur dengan tenang, bahkan mengorok. Saya keluar kamar. Saya bilang sama kakak yang sedang berdoa di luar, "Bapak sudah tidur lagi, tapi ngorok". Kakak menjawab," Kalau begitu coba panggil perawat supaya memeriksa Bapak". Baru saja saya mau berdiri hand phone sepupu saya bunyi. Saya mengambilnya dan masuk ke kamar Bapak untuk memberikan hand phone ke sepupu saya. Sepupu saya bersama beberapa saudara yang lain sedang mengelilingi Bapak saya. Saya tepuk punggungnya, saya beri tahu hand phonenya bunyi. Tetapi dia tidak peduli. Dan saya lihat, kakak melarang perawat yang akan memeriksa tekanan darah Bapak . Saya baru sadar. Innalillaahi wa inna ilaihi roji'uun. Bapak telah dipanggil pulang Allah, Sang Pencipta.

Saya telah mengantar Bapak ke rumah sakit, sayapun akan membawa jenazah Bapak pulang. Dengan ambulan, jenazah Bapak di bawa pulang. Saya duduk disamping jenazah bapak. Sampai di rumah jenazah Bapak langsung dimandikan dan dikafani. Ibu, anak-anak, cucu-cucu, saudara, tetangga, langsung menshalatkan. Karena waktu sudah larut malam, maka diputuskan bahwa Bapak dimakamkan besok pagi saja, sambil menunggu kakak yang belum bisa datang. Pagi harinya mulai selesai shalat subuh sampai mau dimakamkan, masih banyak yang datang untuk menshalatkan. Setelah kakak dari Jakarta datang, Bapak dibawa ke makam untuk dimakamkan di pemakaman keluarga di lereng Gunung Gono. Tepat pada saat liang lahat Bapak mau ditutup dengan tanah, suami saya datang bersama sahabatnya. "Kena macet"katanya. Anak-anak gembira sekali melihat ayahnya datang, Safa langsuk minta gendong.

Doa Bapak terkabulkan. Bapak pernah bilang bahwa dia berharap masa tuanya tidak membuat repot anak cucunya. Ternyata sampai meninggalpun , Bapak tidak membuat repot anak cucunya. Waktu mau membawa pulang jenazah, saya mau membayar biaya rumah sakit. Petugas rumah sakit menolak. "Nanti saja Ibu kalau sudah tujuh hari,"katanya. Di bawah lipatan baju-baju Bapak yang selalu rapi, di dalam almari Bapak, Bapak sudah menyiapkan sejumlah uang yang setelah dihitung cukup untuk biaya rumah sakit, pengurusan jenazah dan pemakaman. Untuk kain kafan, Bapak dan Ibu sudah lama menyiapkan.

Itulah acara liburan saya dan anak-anak selama dua minggu di kampung halaman. Dua minggu lamanya, seperti kata suami sebelum saya dan anak-anak berangkat ke kampung halaman. Dua minggu waktu yang cukup untuk mengantar Bapak ke rumah sakit, menungguinya sampai dipanggil Allah Sang Maha Pencipta, membawa pulang jenazah Bapak, menshalatkan. Menunggui jenazahnya sampai dimakamkan . Menemani Ibu serta berkumpul bersama keluarga dan tetangga sampai hari ketiga dari meninggalnya Bapak. Terima kasih suamiku, engkau telah memberikan kesempatan kepadaku untuk mendampingi Bapak pada saat hari-hari terakhirnya di dunia ini.

26 Februari 2009

Pilihlah Sayuran yang Bolong-bolong

Ada sebuah buku yang cukup bagus untuk dibaca oleh ibu-ibu, yaitu buku Spiritual Kitchen yang ditulis oleh Ummu Fani . Salah satu tulisannya yang menarik dalam buku itu menurut saya adalah tentang memilih sayur-sayuran. Yang intinya saya tuliskan di bawah ini.

Salah satu kesalahan ibu-ibu kalau berbelanja sayur-sayuran adalah memilih sayur-sayuran yang mulus-mulus. Padahal pada sayur-sayuran yang mulus itu ada tiga kemungkinan, yaitu :
- Kemungkinan pertama, sayuran memang tidak diserang serangga
- Kemungkinan kedua, para petani rajin mengusir serangga secara alami
- Kemungkinan ketiga , para petani sayur menggunakan pestisida atau obat-obatan kimia lainnya. Dan inilah yang paling besar kemungkinannya, karena hanya sedikit petani sayur yang mengusir serangga secara alami.

Maka kalau berbelanja sayur-sayuran pilihlah sayur-sayuran yang bolong-bolong, yang ada bekas dimakan ulat atau serangga lainnya. Sayur-sayuran yang ada bekas dimakan ulat atau serangga lain adalah jaminan bahwa sayur-sayuran itu bebas pestisida, sehingga aman dikonsumsi. Dan pasti harganya lebih murah dari sayur-sayuran yang mulus-mulus,bahkan mungkin dikasihkan gratis ke kita oleh penjual sayurannya

25 Februari 2009

Etika Makan Sesuai Tuntunan Rasulullah

Makan sudah menjadi kebutuhan dan kegiatan rutin kita sehari-hari. Karena kesibukan kadang makan dilakukan dengan tergesa-gesa, atau karena terlalu lapar kadang makan sampai kekenyangan. Pada hal makan adalah sesuatu hal yang penting bagi hidup kita karena mempengaruhi kesehatan kita. Maka dalam Al Qur'an dan dalam banyak hadist ditemukan tuntunan yang berkaitan dengan makan.

Dari beberapa buku yang telah saya baca yaitu Terjemah Shahih Fiqih Sunnah tulisan Abu Malik kamal bin as-Sayyid Salim, terjemah Riadhus Shalihin oleh Salim Bahreisy, Cara Nabi SAW Mendidik Anak tulisan Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid, Smart Healing tulisan dr Mohammad Ali Assegaf dapat kita peroleh tuntunan yang berkaitan dengan makan sesuai Al Qur'an dan Hadist sebagai berikut :

1. Membaca bismillah ketika hendak makan.
Ini sesuai dengan ajaran Rasulullah saw yang termuat dalam hadist-hadist yang artinya sebagai berikut :
- Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata ,"Rasulullah saw bersabda , " Jika salah seorang kalian
makan, maka ucapkanlah : bismillahi awwalahu wa akhirahu (dengan nama Allah dari awal
hingga akhir)."(HR Abu Dawud, At tirmidzi dan Ahmad)
- Diriwayatkan dari Hudzaifah ra, Rasulullah saw bersabda , "Sesungguhnya setan menghalalkan
makanan yang tidak disebut nama Allah padanya".(HR Muslim dan Ahmad)
Jika lupa membaca bismillah di awal makan maka hendaklah membaca seperti apa yang dituntunkan Rasulullah saw dalam hadist yang artinya sebagai berikut:
- Rasulullah saw bersabda , "Barang siapa lupa menyebut nama allah di awal makannya, maka
hendaklah ia membaca ketika ingat : bismillahi awwalahu wa akhirahu. Karena ia menghadapi
hidangan yang baru atau mencegah setan untuk ikut makan hidangan tersebut".(HR Ibnu as
Sunni)
- Djabir ra berkata, " Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda , "Apabila seorang masuk
ke dalam rumahnya dengan menyebut bismillah ketika masuk dan ketika makan, maka setan
berkata kepada temannya ,"Tiada tempat tinggal dan tiada bagian makanan bagi kamu di
sini"."Dan bila masuk tidak menyebut nama Allah, setan berkata, "Kamu dapat bermalam di
rumah ini", kemudian jika waktu makan tidak menyebut nama Allah., setan berkata, "Kamu
dapat bermalam dan makan di sini".(HR Muslim)

2. Makan dengan tangan kanan
Sesuai dengan hadist yang artinya sebagaai berikut :
- Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda , "Jika salah seorang dari kalian
makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan jika ia minum maka hendaklah
ia minum dengan tangan kanannya. sebab setan itu makan dan minum dengann tangan
kirinya".(HR At Tirmidzi dan Abu Dawud)

3. Mengambil makanan yang terdekat dari kita
- Dari Amr bin Abi Salamah ra, Nabi saw berkata kepadaku , "Wahai anak, sebutlah nama
Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada didekatmu."(HR
Bukhari dan Muslim)

4. Makan dari bagian pinggir makanan.
- Dari Abdullah bin Abbas ra, Nabi saw bersabda, "Keberkahan itu turun dari bagian tengah
makanan,maka makanlah dari sebelah pinggirnya dan jangan makan dari bagian
tengahnya".(HR Abu Dawud , Ibnu Majah dan Ahmad)

5. Tidak makan sambil bersandar
- Dari Abu Juhaifah, ia berkata, "Nabi saw bersabda, "Adapun aku, maka aku tidak makan
sambil bersandar".(HR Bukhari dan Tirmidzi)

6. Tidak mencela makanan jika tidak menyukainya dan sunnat memuji
- Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah saw tidak pernah mencela
makanan sama sekali. Bila beliau suka, beliau memakannya dan bila tidak suka, beliau
meninggalkannya".(HR Bukhari dan Muslim)
- Dari Djabir ra berkata bahwasannya Nabi saw menanyakan lauk pauk kepada keluarganya,
maka jawab mereka , "tidak ada lauk pauk kecuali cuka". Maka Nabi saw meminta cuka
untuk dimakan dengan roti yang dihidangkan kepadanya, sambil bersabda , "Sebaik-baik
lauk pauk ialah cuka, sebaik lauk ialah cuka".(HR Muslim)

7. Tidak makan sendirian
Sesuai hadist yang artinya Nabi saw berkata,
"Makanan dua orang cukup untuk tiga orang dan makanan tiga orang cukup untuk empat
orang".(HR Bukhari dan Muslim)

8. Tidak terburu-buru ketika makan, memakan apa yang masih menempel pada jari-jari dan piring hingga bersih.
- Dari Ibnu Abbas ra berkata, "Rasulullah saw bersabda , "Jika makan salah seorang
darikamu, maka janganlah keburu mengusap tangannya sebelum membersihkan makanan
yang masih menempel padanya". (HR Bukhari dan Muslim)
- Ka'ab bin Malik ra berkata , "Saya melihat Rasulullah saw makan dengan tiga jari dan jika
selesai lalu memakan apa yang masih menempel pada jari-jarinya hingga bersih".(HR
Muslim)
- Dari Djabir ra berkata , " Rasulullah saw menyuruh membersihkan sisa makanan yang di
piring maupun yang di jari, sambil bersabda , "Sebab kalian tidak tahu makanan manakah
yang ada berkahnya".(HR Muslim)

9. Memakan makanan yang terjatuh sesudah membersihkan kotoran darinya
- Dari Jabir ra , berkata , "Rasulullah saw bersabda , "Jika makanan salah seorang dari kalian
jatuh, maka pungutlah lalu bersihkan kotoran yang melekat padanya dan makanlah. Jangan
biarkan di makan oleh setan".(HR Muslim)

10. Lebih utama dengan duduk
- Anas ra berkata , "Nabi saw telah melarang orang minum sambil berdiri. Qotadah bertanya
kepada Anas ra, "Kalau makan bagaimana?"Kalau makan berdiri lebih busuk dan
jahat."(HR Muslim)

11. Makanan yang dimakan halal dan baik
Allah berfirman dalam surah Al baqarah ayat 168 yang artinya ,
"Wahai Manusia ! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata
bagimu."

12. Sederhana dan berhenti makan sebelum kenyang
Dalam surah Al A'raf ayat 3, Allah telah berfirman yang artinya,
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih- lebihan. Sungguh allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan".
- Dalam suatu hadist Nabi saw bersabda, "Kami adalah orang-orang yang hanya makan bila
lapar dan apabila makan tidak sampai kenyang".

13. Memujii Allah dan berdoa sesudah selesai makan.
- Dari Anas bin Malik ra berkata , "Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya Allah ridha terhadap
seorang hamba yang menyantap makanannya lalu memuji Allah atas anugerah tersebut".

14. Berdoa untuk orang-orang yang menghidangkan makanan:
- "Allahumma baariklahum fii maa razaqtahun waghfirlahum warhamhum".(HR Muslim,
Tirmidzi dan Abu Dawud)

15. Mencuci tangan untuk menghilangkan bekas-bekas makanan
- Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah saw barsabda , "Apabila salah seorang dari
kamu tidur sementara tangannya masih ada bekas makaanan, lalu ia terkena sesuatu,
maka janganlah ia mencela kecuali pada dirinya sendiri".

23 Februari 2009

Etika Tidur

Hari Jum'at malam saya tidur terlalu malam. Sabtu pagi saya pergi mengajar dalam keadaan badan yang kurang segar. Sehingga mengajarnyapun kurang optimal. Pulangnya beberapa kali tertidur di mobil angkutan. Sampai rumah akhirnya saya ingin sekali membaca hal-hal yang berhubungan dengan tidur, untuk kembali mengingatkan diri.

Allah berfirman dalam surah An-Naba' ayat 9: "Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat". Dalam kamus bahasa Indonesia Amran YS Chaniago, tidur adalah merebahkan badan dan memejamkan mata sampai hilang kesadaran dalam waktu tertentu. Tidur sudah menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Ternyata kebiasaan tidur kita mempengaruhi kesehatan jiwa dan raga kita. Maka Rasulullahpun memberi contoh tata cara tidur yang baik.

Dari buku Cara Nabi Mendidik Anak, tulisan Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid yang diterjemahkan oleh Hamim Thohari dan kawan-kawan ditulis bahwa hendaknya kita tidur setelah Shalat 'Isya atau jangan sampai tidur larut malam dan bangun sebelum subuh. Dokter Mohammad Ali Toha Assegaf dalam buku Smart Healing menuliskan bahwa Rasulullah saw memberikan contoh tidur tidak terlalu malam dan bangun sepertiga ataupun dua pertiga malam. Dan ternyata para ahli kesehatan belakangan ini menemukan bahwa tidur terlalu lama dapat mengganggu kesehatan. Sebagian dari mereka menyarankan agar orang bangun dari tidurnya setiap empat jam sekali agar tidak terjadi penggumpalan energi yang menyebabkan pegal dan linu pada daerah tertentu. Kitapun akan merasakan badan lemah, pikiran dan perasaan yang tidak enak kalau tidur terlalu lama.

Bangun tidur sebelum waktu subuh. Dalam Riadhus Shalihin tertulis hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dan Muslim yang artinya :
Aisyah ra berkata : "Nabi saw biasa shalat pada waktu malam sebelas rakaat dan apabila terbit fajar shalat dua rakaat yang ringan, kemudian berbaring diatas pinggang yang kanan hingga datang mu'adzin yang memberi tahu datangnya waktu subuh".
Dalam hadist lain riwayat Imam Al Baihaqi dalam buku Cara Nabi mendidik anak disebutkan bahwa Rasulullah saw berkunjung ke rumah Fatimah ra pada waktu pagi. Beliau mendapati putrinya sedang tidur. Kemudian beliau membangunkannya seraya bersabda kepada putrinya,"Bangunlah, lalu saksikan rezeki Rabbmu".
Dini hari udaranya segar dan bersih . Hal ini akan menyegarkan tubuh dan tubuh yang segar akan mampu melawan berbagai macam penyakit. Orang yang terbiasa menghirup udara segar dini hari sambil melaksanakan shalat, tanpa disadari tubuhnya akan semakin segar dan sehat.

Posisi tidur yang baik adalah miring kekanan dan juga boleh tidur terlentang. Hadist yang memberitahukan kita tentang posisi tidur Rasulullah diantaranya adalah :
1. Al Barra' bin Azib ra berkata :"Rasulullah saw mengajarkan kepada saya;"Jika kau akan tidur tidur maka wudhu'lah bagaikan kau akan sholat, kemudian berbaring atas pinggang kanan dan bacalah doa ini dan jadikanlah bacaan doa itu yang terakhir dari bacaanmu (HR Bukhari dan Muslim dalam Riadhus Shalihin)
2. Hudzaifah ra berkata :"Adalah Nabi saw jika akan tidur di waktu malam meletakkan tangan kanan di bawah pipinya kemudian membaca:"Allahummabismika amutu wa ahya", dan apabila bangun tidur membaca:"Alhamdulillahillaadzi ahyaana ba'da ma amatana wailaihin nusyur. (HR Bukhary dalam Riadhus Shalihin)
3. Abdullah bin Jazid ra berkata bahwa ia telah melihat Rasulullah saw terlentang di masjid sambil meletakkan satu kaki diatas yang lain.(HR Bukhary dan Muslim dalam Riadhus Shalihin)
Menurut dr. Mohammad Ali Assegaf dalam bukunya Smart Healing posisi tidur miring ke kanan akan menjaga jantung dan lambung yang merupakan dua organ besar yang vital dari penekanan. Sedang penggunaan tangan kanan untuk mengganjal kepala adalah agar bahu kanan tidak terbebani.

Rasulullah tidak senang dengan tidur tengkurap. Dalam suatu hadist dalam kitab Riadhus shalihin disebutkan :
"Abdullah bin Jazid ra berkata bahwa ia telah melihat Rasulullah saw terlentang di masjid sambil meletakkan satu kaki di atas yang lain."
Titik Puspa pernah mengatakan bahwa dengan tidur terlentang, menghindari tidur tengkurap kecantikan kulit mukanya terjaga. Kerampingan perutnyapun terjaga.

Dalam buku Smart Healing, dr M Ali assegaf menganjurkan jangan tidur sehabis shalat ashar, karena ada hadist yang menyatakan larangan tidur sehabis shalat ashar. Meskipun saya belum menemukan hadistnya tetapi saya mempunyai pengalaman dengan tidur sehabis shalat ashar ini. Sewaktu duduk di kelas satu SMA, saya tinggal di rumah kost bersama teman-teman sekolah. Kampung tempat rumah kost saya, sumur-sumurnya banyak berkurang airnya pada musim kemarau, sehingga hanya cukup untuk memasak. Untuk mandi dan mencuci baju kami harus pergi mata air-mata air di tebing-tebing pinggir sungai yang jaraknya agak jauh dari rumah kost. Agar tidak terlihat orang kami biasanya mandi sebelum subuh atau sehabis maghrib Pada suatu hari, sehabis shalat ashar saya tidur. Begitu terbangun, saya berpikir bahwa hari sudah pagi dan saya kesiangan teman-temanpun sudah pergi ke sungai semua. Tanpa pikir panjang saya ambil peralatan mandi dan setengah berlari menyusul ke sungai. Sampai di kebun bambu saya berpapasan dengan teman-teman. Mereka tersenyum. Kelihatannya mereka belum mandi, tapi mengapa sudah pulang. Dengan penasaran dan kebingungan saya bertanya, " Lho kok belum mandi, mau sekolah?". "Sekolah?", mereka balas bertanya dengan tatapan heran. Mereka menjadi tahu kalau saya baru bangun tidur, masih kebingungan dan menyangka hari sudah pagi. Akhirnya saya tersadar bahwa hari menjelang magrib. Kami semua tertawa. Sayapun ikut kembali pulang ke rumah kost.

Dokter M Ali Assegaf juga menuliskan bahwa dalam suatu hadist Rasulullah juga menganjurkan tidak tidur segera sehabis makan, karena tidur sehabis makan akan membuat hati menjadi keras. Dan menurut kedokteran modern, tidur dalam keadaan pencernaan makanan belum selesai akan berbahaya bagi kesehatan, yaitu mengganggu proses pencernaan. Saya juga pernah membaca bahwa jalannya makanan dari lambung ke usus adalah karena gaya gravitasi berarti perlu perbedaan tinggi antara lambung dan usus. Jika orang dalam keadaan tidur, lambung dan usus dalam posisi sama tinggi, ini menyebabkan makanan tertahan di lambung, tidak bisa berjalan ke usus. Hal ini akan mengganggu proses pencernakan makanan dan mengganggu kenyenyakan tidur.

21 Februari 2009

Sayur Kangkung Masak Praktis

Untuk yang tidak begitu trampil memasak atau yang sibuk, ada resep masakan untuk akhir bulan yang sudah sering saya praktekkan. Dijamin irit dan cepat masaknya.

Bahan :
3 ikat kangkung
6 siung bawang putih
5 cabe merah keriting
1 bungkus kecil royco rasa ayam

Cara memasak :
1. Kangkung dicuci bersih, lalu di potong-potong @5 cm
2. Cabe dicuci dan di potong-potong dengan tangan @2cm
3. Bawang putih dicuci, lalu dikeprek, dan ditumis sampai tercium baunya
4. Irisan cabe dan kangkung dimasukkan
5. Setelah kelihatan agak layu, masukkan royco yang telah dilarutkan dengan 1/2 gelas air panas
6. Masak sebentar, siap dihidangkan dengan nasi hangat dan tempe goreng

Firman Allah dalam Surah Al-Anam ayat 141, yang artinya :
"Dan Dia-lah yang Menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa 9bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan".

Pelajaran di Sore Hari

Hari Jum'at ini aku harus mengajar sampai jam 14.20. Begitu bel berbunyi aku langsung membereskan buku-buku di meja, karena ingin segera bertemu dua putri kecilku di rumah. Setelah mengucap salam kepada murid-muridku, aku segera melangkah keluar kelas untuk pulang. Astaghfirullah, lupa tidak bersalaman dengan murid-murid. Teringat aku sebuah hadist yang pernah aku baca dari kitab Riadhus shalihin , " Al-Barra" r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Tiada dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan diampunkan dosa keduanya sebelum berpisah." (HR: Abu Dawud). Kubalikkan langkahku ke meja murid-murid perempuanku untuk bersalaman. Beberapa murid berpesan kepadaku agar hati-hati di jalan. Yang membuatku bahagia mereka melepasku dengan senyuman. Ketergesa-gesaan hampir melalaikan aku berbuat satu kebaikan. Kalau ibu guru sering tergesa-gesa bagaimana nanti dengan murid - muridnya.

Seperti biasa saya pulang dengan naik mobil angkutan kota. Setelah melewati rel mobil angkutan berhenti menunggu penumpang lagi. Ada beberapa penumpang yang naik. Mobil mau jalan lagi, tetapi kesulitan. Mengapa?Dari arah berlawanan banyak pengendara sepeda motor memenuhi jalan mendahului mobil yang sedang berhenti menunggu pintu jalan kereta api dibuka. Mereka seperti berebutan ingin paling depan. Bahkan ada pengendara sepeda motor yang sampai berjalan di tempat pejalan kaki samping kiri mobil angkutan yang saya tumpangi. Secara tak sengaja saya melihat beberapa pengendara sepeda motor. Terkejut saya dibuatnya. Ternyata banyak juga bapak-bapak yang sudah berumur diantara mereka. Selama ini saya berpikir bahwa yang tidak mau tertib berlalu lintas adalah anak-anak muda atau bapak-bapak yang masih muda. Terjawab sudah salah satu sebab sulitnya menertibkan anak-anak. Jika orangtua dan bapak ibu guru tidak tertib, bagaimana mau menertibkan anak-anak dengan mudah. Kata peribahasa "Guru kencing berdiri, murid kencing berjalan.

Selesai shalat maghrib dan membaca Al Qur'an, aku mencuci beberapa piring kotor. Anakku Mila dan Safa sedang makan. " Mama , Mila makannya tidak sampai habis, pedas sekali sih," kata Mila. Aku lalu duduk di depannya untuk menyuapi, biasanya Mila bilang begitu kalau minta disuapi. Sebelum mulai menyuapi aku cicipi dulu lauknya, ternyata memang terlalu pedas untuk Mila. Bumbu aku pisahkan dari lauknya, nasi yang tercampur bumbu dan kuah aku pinggirkan. Lalu aku mulai menyuapi. Satu suap, dua suap, tiga suap. Mila kesulitan mengunyah, mulutnya kepenuhan. Aku kurang sabar menunggu Mila menyelesaikan mengunyah setiap suapan dan menelannya. Astaghfirullah. Untuk hal yang kecilpun aku sering tidak sabar. Malu jadinya. Padahal aku sering menuntut anak-anak untuk sabar.

Tiga pelajaran yang aku dapatkan sore ini. Tiga pelajaran yang menyuruhku untuk memperbaiki diri sebelum ingin memperbaiki orang lain.

19 Februari 2009

Yang Praktis dari Tetangga

Martabak Telur Bu Sholihin

Bahan :
- 2 butir telur
- 1 bungkus mie instant rasa apa saja
- daun bawang dan seledri secukupnya
- taoge secukupnya
- wortel secukupnya
- jika ada dapat ditambah bakso atau udang
- 4 sendok makan minyak goreng

Cara membuat :
- Wortel, daun bawang dan seledri, bakso (jika ada) di potong kecil-kecil
- Mi instant direbus sampai matang, tiriskan
- Campur potongan sayuran, wortel, bakso dan taoge dengan mie
- Setelah agak dingin di campur dengan telur dan diaduk-aduk sampai tercampur
- Goreng sekaligus dengan api kecil sampai matang
- Martabak telur siap dihidangkan dengan kecap atau sambal untuk lauk makan nasi atau kudapan

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda :
Jika salah seorang kalian kalian makan, maka ucapkanlah : Bismillah (Dengan menyebut nama Allah). Jika lupa, maka ucapkanlah Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah dari awal hingga akhir)". (Hadist riwayat Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ahmad dari kitab Shahih Fiqih Sunnah

Flower and Graveyard

After my husband and two my little daughters came back to home from doing together sholat Isya' in musholla, we joined together in my husband work room. Me and my husband sat together in front of computer red Safa's writing in her blog. Safa is our third daughter. She was writing with pleasure. While Mila, our fourth daughter was taking an open our book. She has taken several our books for took an open.

My husband guided me posting my comment for Safa's writing.Posting was finished. I looked around Safa's blog again. Suddenly, I was attracted by a flower photo. Kamboja flower. I remembered two graveyards near my village. The place of my family graveyard and graveyard where be passed me when I came back to home from my elementary school. In the two graveyards has been grown some kamboja flower trees. I liked to took some flowers that were fallen on the grave.

When I since in kindergarten until in elementary school, in Thursday afternoon, my father often invited me went to family grave yard. The grave yard at little mountain slope. The mountain is named Gana Mountain, because at the top mountain had been found Gana statue at the time ago.In the graveyard has been buried my grand fathers, my grand mothers, father's older and younger brothers, mother's younger brother, two my brothers and my nephew. And at six years ago my father also had been buried in the grave.

Usually, me and my father drew the wild grasses earlier. After it my father put in order the plants at around the family grave and cut its if so high. While I played or looked for kamboja flowers that were fallen on the grave. The flowers were carried to home for playing. I attached its.

Our activity in the grave was closed by praying for family who has been buried in the grave. My father knew that praying for grand fathers and grand mothers did not need arriving the grave. After we do sholat at five times, we have been suggested praying for our parents in our life. So, my father had not compelled his children following to the graveyard. My father invited to the graveyard for reminding his children towards who had been buried and that one time we also will die and will be buried. Thank you my father. I hope, Allah bless and forgive my father. Really, we property of Allah and to Allah, we come back.









18 Februari 2009

Pemakaman

Sepulang suami dan dua putri kecilku dari musholla melaksanakan sholat Isya" berjamaah, kami berempat berkumpul di ruang kerja suami. Aku dan suami duduk berdua didepan komputer, membaca tulisan Safa, putri ke tiga kami di blog. Dia sedang semangat untuk menulis. Sementara putri kecil kami membuka-buka buku. Ia mengambil beberapa buku kami untuk dibuka-buka, membaca buku katanya dengan semangat.

Suami menuntunku memposting komentar untuk tulisan Safa. Selesai memposting aku melihat-lihat lagi blog Safa. Tiba-tiba aku tertarik sekali dengan sebuah gambar bunga. Bunga kamboja. Teringat dua tanah makam di dekat kampung halaman. Satu pemakaman tempat keluarga bapak dan ibu dimakamkan, satu lagi pemakaman yang kadang-kadang aku lewati sepulang sekolah. Dua pemakaman ini banyak ditanami pohon kamboja. Aku suka memunguti bunga - bunga kamboja yang berjatuhan di tanah makam itu.

Dulu, pada waktu saya masih di TK sampai saya SD, setiap Kamis sore, bapak mengajak saya ke makam keluarga. Pemakaman ini terletak di lereng gunung kecil yang dinamai Gunung Gana karena di puncaknya dulu ditemukan arca Gana. Di tanah makam itu mbah kakung, mbah putri, saudara mbah, pak de, pak lik, bu lik dan keponakan saya dimakamkan. Enam tahun yang lalu bapak dimakamkan di situ juga.

Bapak dan aku biasanya mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela makam. Setelah itu bapak akan merapikan tanaman yang di tanam di sekeliling pemakaman atau memangkas tanaman yang terlalu tinggi menurut bapakdan memeriksa kondisi makam. Biasanya aku menunggu bapak selesai kerja sambil bermain atau mengumpulkan bunga - bunga kamboja yang berjatuhan di makam. Bunga - bunga itu akan aku bawa pulang. Baunya yang harum membuat aku menyukainya. Di rumah bunga - bunga itu biasanya akan aku rangkai unuk mainan.Setelah menyapu, aktivitas aku dan bapak di pemakaman ditutup dengan berdoa untuk anggota keluarga yang dimakamkan di situ.

Bapak tahu untuk mendoakan kakek nenek yang telah meninggal tidak harus pergi ke pemakaman. Sehabis sholat wajib adalah salah satu waktu yang diajarkan agama kepada anak-anak untuk mendoakan orang tuanya, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Maka bapak tidak pernah memaksa aku atau anak-anak beliau yang lain untuk ikut ke pemakaman. Bapak mengajak ke pemakaman untuk mengingatkan anak-anak terhadap orang tua yang telah meninggal dan mengingatkan bahwa suatu saat kita juga akan dimakamkan. Terima kasih Bapak. Ya Allah terimalah semua amal baik bapak dan ampunilah dosa bapak. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.

Mobile Phone ('Hand Phone') vs Text Book

One of two schools where I teach is school of poor students. School with lower payment in South Tambun, Bekasi. Although that, some students still are difficulty to pay school payment, what else to buy text book, although cheap text book. But the school building is good, schoolyard is wide with several trees, sport square and flower garden.

Several teachers in the school watched some students behavior closely. They often asked were excused to go to toilet when they were studying in the class. After were examined, really some students didn't go to toilet. They were replaying message or recalling call that had been received by mobile phone / cell phone which in Indonesia we mention it as 'hand phone'. Some times, there were several students sent messages or played mobile phones in the class at studying time. Certainly, the things disturbed their studying.

From the some messages in mobile phones of students that were knew by the teachers, really from their boy friends or girl friends. After examined that often the students had been called with mobile phone were their boy friends or girl friends, their friends who did not have relation with school activity.

Finally, the teachers decided to forbid the students bring mobile phone to school . If they are found out bringing it, mobile phone will be confiscated by homeroom teacher or vice principal. And their parents are invited to school to take it.

What and who is wrong? Their teachers? Their parents? The students can buy mobile phone and its reload voucher (pulse) but can not buy cheap text book, why?

17 Februari 2009

Mila, A Little Teacher with Playing Card

Last year, Kamila , my younger child entered to kindergarten. One day at the early months she went to school, I was so surprised when looked her back to home from playing with brought several playing cards. I asked her soon. "Mila, where did you get the playing cards? She answered that the playing cards be got from street in front of Laura's house. I said, " Mila, my dear, mother do not like you bring the playing cards, because mother always hope mother's children become sholehah women" . "Why, Mother? I get the cards from street, I want to play them", protesting of Mila. Finally, I permitted her to play card. "All right, Mila may play the cards, but after playing the card must be discharged". Kamila didn't answer and continued playing.

I sat on a chair in back veranda while looked at Mila played her cards. I worried with Mila playing cards, afraid that Mila would get negative effect. In my cultural, playing card had negative meaning. I thought that always must protect my children from negative effect.

I be faltered by Mila action. Mila acted as a teacher who was teaching her students.She showed a card and counted sum of picture in the card. After that Mila asked to her imagine students, " What number is this", while pointed the number was written at upper corner card. Quiet in a few minutes. And than, Mila said sweetly a number as same as sum of picture in the card and like the number was written at upper corner card. The actions was done repeatedly with took turns card. Subhanallah. Really, little Mila became a smart and sweet teacher.

16 Februari 2009

I hope, Fin can come back to school

Fin salah seorang murid saya sudah beberapa hari tidak masuk sekolah. Sudah beberapa kali saya titip pesan untuk Fin, lewat saudara sepupunya Gita, yang kebetulan di kelas saya juga, agar Fin datang ke sekolah. Menurut informasi dari Gita, Fin sebenarnya masih ingin sekali sekolah tapi karena faktor ekonomi keluarga Fin harus kerja. Setelah meminta saran dari teman guru dan staf yayasan saya putuskan untuk berkunjung ke rumah Fin.

Sambil menunggu angkutan yang menuju rumah Fin, saya berbincang-bincang dengan ibu pemilik warung di depan sekolah. Saya bercerita kalau mau berkunjung ke rumah salah seorang anak yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah karena harus bekerja, padahal menurut informasi dari saudaranya anak tersebut masih ingin sekolah. Medengar itu, ibu pemilik warung langsung cerita, bahwa dulu anaknya ingin sekali sekolah kebidanan. Karena kesulitan biaya, ibu tersebut menyarankan untuk mengambil jurusan lain yang lebih terjangkau biayanya. Anaknya tetap pada pendiriannya dan mencari sekolah sendiri. Akhirnya si ibu menjual sapi yang baru melahirkan untuk biaya sekolah anaknya, si ibu harus rela menyusui anak sapi yang baru lahir dengan susu kaleng. Dan sekarang si anak sudah berhasil menjadi bidan sesuai dengan cita-citanya dan mungkin mampu membelikan sapi lebih dari satu untuk si ibu.

Turun dari angkutan, ternyata saya harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai ke rumah Fin. Alhamdulillah, walaupun jalannya dari tanah tetapi tidak becek. Setelah bertanya pada orang yang ke empat, barulah saya menemukan rumah Fin. Orang ke empat ini ternyata ibu kandung Fi. Dengan ramah dia mempersilahkan saya masuk rumah. Di rumah Fin saat itu hanya ada ibu Fin dan dua adiknya yang masih kecil dan satu keponakannya yang masih berusia 10 bulan, Fin tidak ada. Nampaknya, ibu Fin masih ingat saya karena pernah bertemu waktu pengambilan raport di sekolah. Di awali dengan basa-basi sekedarnya, saya bertanya tentang kabar Fin sekarang, mengapa lama tidak masuk sekolah. Ibu Fin dengan agak sedih menceritakan kondisi keluarganya, juga menceritakan betapa sedihnya harus menyuruh Fin bekerja dulu. Setelah mendengarkan cerita ibu Fin, saya menyampaikan saran-saran hasil diskusi saya dengan teman-teman guru di sekolah dan juga tawaran bantuan dari pihak yayasan yang berupa dispensasi dan keringanan biaya sekolah agar Fin dapat meneruskan sekolah sekaligus masih dapat bekerja membantu ekonomi keluarga.

Ibu Fin berjanji akan menyampaikan semua saran kepada Fin dan berterima kasih kepada guru-guru dan yayasan yang telah memberi perhatian kepada Fin. Ibu Fin mengantar saya pulang sampai tempat pemberhentian angkutan yang lumayan jauh dengan berjalan kaki. Hati saya lega bisa berkunjung ke rumah Fin. Semoga Fin dan keluarganya mau menerima saran-saran guru dan yayasan. Semoga Fin bisa sekolah lagi. Amiin.

15 Februari 2009

Etika Berjalan

Hari Selasa siang itu cuaca terang. Hujan yang sudah turun beberapa hari sudah tidak turun lagi siang itu. Saya bisa langsung pulang setelah selesai melaksanakan kewajiban mengajar. Karena tidak hujan saya pulang dengan jalan kaki, kebetulan sekolah tempat saya mengajar dekat dari rumah. Dengan berjalan kaki, saya bisa berjalan bersama murid-murid saya, sehingga menambah kedekatan dengan mereka.

Saya keluar pintu gerbang sekolah, banyak murid saya yang masih berada di jalan depan sekolah, suasana di jalan depan sekolah jadi ramai oleh anak-anak sekolah yang akan pulang. Belum seberapa jauh melangkah dari gerbang sekolah, saya di kejutkan oleh seorang bapak yang lagi tergeletak di jalan di antara keramaian anak-anak, saya bertanya ke beberapa murid yang berada di seberang jalan tidak jauh dari saya " Ada apa itu?, tapi merekapun tampaknya juga tidak tahu. Akhirnya saya berjalan mendekati bapak yang tergeletak di jalan itu, saya melihat kira kira 2 meter darinya ada sebuah sepeda motor. Alhamdulillah, sebelum saya sampai ke tempatnya, bapak yang tergeletak tersebut sudah bisa bangun sendiri. Saya cepat-cepat mendekatinya. Anak-anak yang tadi di sekitarnya sebagian sudah pergi. Saya merasa ada sesuatu yang salah dengan murid-murid saya yang menyebabkan bapak tersebut tergeletak di jalan sehingga saya perlu minta maaf ke bapak tersebut. "Ada apa Pak? Kena anak-anak ya Pak? Masih dengan sedikit marah ia menjawab bahwa anak-anak bercanda sembarangan di jalan, dia menghindari anak-anak tersebut supaya tidak tertabrak dan akhirnya malah dia yang terjatuh dari sepeda motornya.Karena begitu marahnya kepada anak anak yang membuatnya jatuh akhirnya keluar kata kotor dari mulutnya untuk anak-anak dan ini terdengar oleh anak-anak lain yang tidak tahu tentang kejadian tersebut. Kata-kata maaf yang akan saya sampaikanpun akhirnya saya lupakan. Kebetulan bapak tersebut juga langsung pergi dengan sepeda motornya, saya langsung pulang. Sambil berjalan saya bilang kepada anak-anak, "Nak, makanya kalau di jalan jangan bercanda sembarangan supaya tidak mencelakai orang. Tuh teman kamu bercanda sembarangan sehingga mencelakai orang jadinya ada kotoran yang keluar dari mulut deh. Tidak enak kan kita mendengarnya?"

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya membuka-buka buku tentang pendidikan anak dalam Islam. Saya tersadar, selama ini ada hal yang terlupakan, pendidikan tentang etika berjalan di jalan umum tidak pernah saya sampaikan ke murid-murid . Padahal dalam buku "Wahai Ayah : Selamatkan Putra-Putrimu" karya Syaikh Muhammad Syakir yang diterjemahkan oleh Achmad Sunarto, pendidikan tentang etika berjalan di jalan umum itu adalah termasuk hal yang perlu disampaikan kepada anak-anak kita termasuk anak-anak didik. Nasehat beliau kepada murid-muridnya dalam bukunya antara lain adalah sebagai berikut " Dan hendaknya kamu tetap tenang dan menjaga kewibawaan. Maka tidak perlu berjalan tergesa-gesa dan jangan bersenda gurau di jalan. Dan jangan tertawa-tawa, kecuali sekedar senyum. Jangan suka mengganggu orang lainn di jalanan. Janganlah berjalan berjajar di jalan umum. Jika jalan itu lurus, maka cukuplah jalan dua-dua. Tetapi jika tidak demikian, maka jalanlah sendiri-sendiri yakni satu-satu. "

Story of My Child

Safa is nick name of my third daughter. She is nine years old.Yesterday, Friday, she said to me that she want to give a present to her best friend. I surprised. I asked her " Why will you give a present to your best friend?As a souvenir?You will still together with your friends in two and half years, will not you? My daughter Safa answered that she want to give a present to her best friend because we must give each other with our friends. Finally, I permitted Safa to buy some thing as gift to her best friend with her own money. She was agree because actually she want to buy gift by her own money. She was very happy.

The day Safa is happy to see me learn writing in English. Yesterday night, before she went to the musholla for sholat Isya with her daddy (my husband) and her younger sister Kamila, she gave her English book to me, for be learned.

14 Februari 2009

Banjir

Baru saja saya membaca koran Republika edisi kemarin , Jum'at 13 Januari 2009 di kolom resonansi Zaim Uchrowi menulis dengan judul Luar Biasa : Banjir. Ringkasan tulisannya menurut pemahaman saya adalah :
"Bagi sebagian kita banjir mungkin hal biasa karena di waktu-waktu tertentu setiap tahun, kebanjiran menjadi hal keseharian. Padahal banjir adalah penanda lingkungan yang rusak. Banjir penanda lingkungan yang kurang tertata. Ia penanda pembangunan lingkungan dan kependudukan tidak secara holistik atau menyeluruh.
Membangun lingkungan dan kependudukan secara menyeluruh adalah untuk kepentingan kita juga. Tugas menjaga dan memelihara lingkungan buat kemaslahatan bersama adalah amanah Allah SWT pada kita sebagai khalifah- Nya di muka bumi. Maka sebagai bangsa yang bermartabat, kita harus menjadikan era baru Indonesia haruslah era dimana seluruh pemimpin dan kekuatan masyarakat memposisikan tinggi masalah lingkungan, menganggap banjir sebagai hal yang luar biasa , hingga bersungguh-sungguh mencegahnya."

Selama hampir lima belas tahun tinggal di Perumahan Bumi Lestari setiap tahun di musim hujan jalan di depan rumah saya selalu terendam air kadang-kadang sampai selutut orang dewasa. Karena setiap tahun melihat dan merasakan jalan yang terendam ini saya dan keluarga dan mungkin sebagian besar tetangga merasakan hal yang biasa. Dan saya merasa malu setelah membaca resonansi dari Zaim Uchrowi. Saya juga jadi teringat pertanyaan teman mengajar yang sering melihat jalan-jalan di perumahan saya tergenang air di musim hujan ' Bu apakah tidak ada pertemuan warga menjelang musim hujan untuk mengantisipasi banjir yang datang setiap tahun?Waktu itu saya jawab dengan gelengan kepala'.

Jalan di depan rumah saya setiap hujan mendapat limpahan air dari jalan diatasnya (jalan atas)yang mendapat aliran air dari perkampungan sepanjang jalan atas itu. Jalan atas itu kondisinya rusak parah, padahal menjadi urat nadi perekonomian sebagian besar warga Tambun. Jalan atas menghubungkan banyak perumahan dan perkampungan dengan kota Tambun. Karena terlalu parah rusaknya beberapa pengendara sepeda motor pernah terjatuh (termasuk teman mengajar saya) dan beberapa mobil terperosok di tepi jalan ada yang hampir mau jatuh ke jalan perumahan karena sebagian besar turap jalan longsor dan di beberapa tempat jalan juga ikut longsor ke bawah. Saluran air yang memisahkan jalan atas dengan kampung (saluran penampung aliran air dari kampung) sebagian besar tertimbun, rusak dan tidak berfungsi, sehingga air dari kampung mengalir dengan derasnya menyeberangi jalanan atas sekaligus menggerusnya dan terjun ke bawah seperti air terjun menuju keperumahan. Hal ini mengakibatkan turap jalan atas yang kualitas pembangunannya kurang hampir semuanya longsor ke bawah menimbun saluran air perumahan. Akibatnya aliran air dari atas dengan derasnya mengalir ke jalan perumahan dan sebagian warga yang lantai rumahnya belum ditinggikan ikut tergenang air. Di lingkungan perumahan sendiri saluran air banyak yang tidak terawat sehingga tidak berfungsi optimal. Dengan pengecoran sebagian besar jalan perumahan, pembangunan rumah yang tak menyisakan ruang terbuka hijau, tidak tersedianya lahan untuk resapan air maka terjadilah genangan air yang makin bertambah tinggi dan makin lama setiap musim hujan.

Jika setiap beberapa bulan sekali diadakan penggalian dan perbaikan selokan air secara gotong royong oleh warga perumahan, dibuat daerah resapan air pada lahan-lahan yang tidak termanfaatkan, misalnya dengan pembuatan situ-situ kecil yang dapat untuk memelihara ikan dan tempat rekreasi mini keluarga sehingga dapat menambah pemasukan kas RT atau RW sekaligus sebagai resapan air pengurang atau bahkan pencegah banjir, perbaikan jalan jangan dengan pengecoran tapi dengan konblog sehingga air di jalanan masih bisa meresap ke dalam tanah.

Untuk selokan dibawah jalan atas, selain digali lagi perlu di buatkan tanggul, sehingga air tidak semuanya kejalan perumahan. Tanggulnya ditanami bambu yang biasa di tanam di perumahan atau tanaman lain yang dapat memperkuat tanggul, memperindah lingkungan sekaligus penahan debu yang berterbangan dari jalan atas pada musim kemarau. Dana dari mana ? Ya semua warga tentunya harus ikut bergotongroyong. Jika hal- hal diatas dilaksanakan saya kira banjir di lingkungan Perumahan Bumi Lestari setiap musim hujan dapat dapat dikurangi atau bahkan dicegah.

13 Februari 2009

Anakku, maafkan mamamu

Awal bulan Desember 2008, putri ke empat saya Kamila ingin sekali ikut saya pergi ke acara arisan ibu-ibu di lingkungan RT. Pada awalnya saya tidak memperbolehkan karena biasanya kalau adiknya ikut pergi, kakaknya, yaitu putri ketiga saya, Safa, ingin ikut juga, dan terus terang saya sungkan dengan ibu-ibu yang lain terutama tuan rumah karena berarti harus memberi konsumsi lebih kepada saya. Tetapi akhirnya saya ijinkan Kamila ikut karena Safa ternyata lebih senang di rumah dengan ayahnya.

Kamila ikut pergi arisan dengan bergaya seperti ibu-ibu, membawa tas kecil saya di pundaknya.Di tempat arisanpun dia duduk manis seperti ibu-ibu. Ibu-ibu tersenyum melihatnya. Acara arisan dibuka dengan doa, ditentukan yang dapat arisan sekaligus yang menjadi tuan rumah arisan bulan Januari 2009. Acara ditutup dengan makan bersama, dan kamipun segera pulang karena waktu sudah mendekati waktu sholat maghrib.

Sampai di rumah Kamila bercerita kepada kakaknya tentang caranya arisan menurut pemahamannya dengan susunan kata-kata yang masih lucu sesuai dengan usianya. Dari ada ibu yang memegang gelas yang ditutupi plastik yang diikat karet, terus gelas dikocok-kocok sehingga keluar potongan sedotan yang di dalamnya ada gulungan kertas, lalu ada ibu lain yang membaca tulisan nama yang ada di gulungan kertas itu. Mendengar cerita Kamila kepada Safa, saya jadi tersadar bahwa saya telah salah sangka dengannya. Saya menyangka Kamila ingin ikut arisan karena ingin mencicipi suguhan kue, ternyata salah, dia ingin ikut karena dia ingin sekali tahu tentang arisan secara langsung. Kamila anakku, maafkan mama

10 Februari 2009

Melatih kesabaran dan ketekunan dengan persamaan matriks

Hari ini saya mengajar tentang penyelesaian sistem persamaan linear 3 variabel dengan matriks, saya sampaikan ke anak-anak (demikian saya suka menyebut murid-murid saya karena memang seusia anak-anak saya di rumah) bahwa sistem persamaan linear dengan 3 variabel juga dapat diselesaikan dengan persamaan matriks ataupun dengan aturan Cramer. Kebetulan kedua cara ini telah mereka pelajari dan mereka coba pada pertemuan sebelumnya untuk menyelesaikan sistem persamaan linear 2 variabel.

Setelah bersama-sama menyelesaikan contoh soal, mereka saya ajak untuk menyelesaikan soal yang lain dengan menggunakan kedua cara. Untuk menggunakan aturan Cramer rata-rata dari mereka tidak mengalami masalah. Tetapi untuk penyelesaian dengan persamaan matriks kebanyakan mengalami masalah, hanya segelintir anak yang tidak mengalami masalah. Masalah apa yang mereka hadapi?Mereka belum faham dalam menerapkan persamaan matriks? Tidak. Masalah yang mereka hadapi adalah kekurang tekunan dan kekurangsabaran, karena perhitungan pada persamaan matriks adalah perhitungan yang sederhana menurut mereka hanya perhitungan yang harus mereka lakukan cukup banyak. Sehingga untuk anak-anak yang kurang tekun dan sabar akan berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak bisa tetapi karena kurang sabar dan tekun.

Ternyata dengan latihan menerapkan persamaan matriks pada penyelesaian sistem persamaan linear 3 variabel ini, guru dapat mengetahui mana siswa yang tekun dan sabar dan mana siswa yang kurang tekun dan kurang sabar. Dengan latihan tersebut siswa juga dapat berlatih ketekunan dan kesabaran, karena dua hal ini diperlukan untuk menyelesaikan soal dengan baik. Sambil mendampingi anak-anak menyelesaikan soal, saya sampaikan kepada mereka bahwa untuk menyelesaikan soal ini diperlukan ketekunan dan kesabaran tidak cukup kecerdasan, walaupun cerdas kalau tidak tekun dan sabar tidak akan dapat menyelesaikan soal ini dengan baik, demikian pula untuk dapat berhasil dalam hidup.

06 Februari 2009

Setiap Kamis Pagi Di Jalan Kota Tempat Tinggalku

Setiap hari Kamis, Jum'at dan sekarang ditambah hari Sabtu, saya ada tugas mengajar di sebuah SMA yang sebenarnya lokasinya dekat dari rumah.Tapi, meskipun dekat kadang butuh waktu lebih dari 30 menit untuk mencapainya. Apa penyebabnya? Kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh ketidaksabaran manusia.

Kebetulan setiap hari Kamis saya mengajar dari jam pertama yaitu jam 6.45, jadi saya harus berangkat pagi. Angkutan kota menjadi tumpuan saya untuk sampai di sekolah. Setiap Kamis pagi itu, begitu angkutan kota keluar dari jalan perumahan ke jalan raya yang menuju pusat kota akan dapat disaksikan banyak orang yang tergesa-gesa seakan-akan hanya dia sendiri yang harus segera sampai ke tujuan. Dari sopir angkutan kota, tukang ojek, pengendara sepeda motor, pengendara mobil pribadi, sampai pejalan kaki sepertinya ingin saling mendahului satu dengan yang lain. Pernah saya agak tersinggung dengan orang yang berjalan di belakang saya yang ingin mendahului saya yang sudah berjalan cepat sesuai kondisi jalan menurut saya dengan cara yang agak tidak sopan. Jadi setiap Kamis pagi itu bukan hanya mobil dan sepeda motor yang kena macet tetapi pejalan kakipun kadang sulit untuk berjalan karena selain badan jalan, tepi jalannyapun kadang dipenuhi kendaraan bermotor (pengendara sepeda motor) yang ingin cepat-cepat sampai tujuan. Kebetulan jalan menuju pusat kota dipotong oleh rel kereta api, sehingga akan dapat disaksikan kemacetan yang parah sebelum dan sesudah rel kereta jika ada kereta api yang baru saja lewat. Sebelum rel kereta badan jalan dipenuhi oleh kendaraan yang akan ke pusat kota sedang setelah rel kereta api badan jalan dipenuhi kendaraan yang dari pusat kota, jarang yang mau antri di belakang kendaraan lain (terutama pengendara sepeda motor).

Saya jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak di kota kecil ini? Hampir setiap hari disuguhi dengan ketergesa-gesaan, ketidaksabaran yang berujung pada ketidakdisiplinan. Naik angkutan kota, naik ojek atau diantar dengan sepeda motor oleh ayah,ibu atau saudaranya diajak nyrobot jalan jatah orang, naik mobil pribadi atau mobil jemputan sekolah terkadang tidak mau antri. Saya kuwatir hal ini akan dianggap sesuatu yang sudah biasa bagi anak-anak sehingga akan berpengaruh pada perilakunya kelak, karena sekarangpun sudah banyak terlihat banyak anak yang tidak disiplin dalam berlalulintas, anak-anak yang dengan tenangnya membuka palang pintu kereta api yang sudah ditutup karena ingin cepat-cepat melintas atau anak-anak yang tidak sabar antri untuk mendapatkan sesuatu di sekolah, atau yang dengan tenangnya melanggar aturan sekolah karena merasa tidak ada guru yang mengawasi.

Saya berharap suguhan ketidaktertiban berlalulintas yang mereka terima hampir setiap hari ini, tidak akan menjadikan mereka menjadi manusia-manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri, yang berpikir yang penting saya dapat, yang penting saya sampai, tidak peduli ada orang lain yang dirugikan.

Math of The Day


Widgets and Templates

Bermain Sudoku.... Siapa Takut..?

Belanja...? Klik saja...