27 September 2010

Kegalauan Hati Seorang Guru

Hari ini, betul-betul saya merasa capai. Dimulai dari ruang ujian pertama sekolah dimana saya bertugas mengawasi ujian tengah semester. Ada beberapa siswa yang dengan enaknya menyontek jawaban temannya, tapi masih mau mendengarkan teguran saya untuk tidak menyontek, walaupun setelah itu nyontek lagi. Hal ini membuat saya mulai sedih, ditambah memikirkan seorang siswa yang tidak masuk-masuk sekolah walaupun sudah dibujuk-bujuk sama orang tuanya dan sudah saya temui di rumahnya. Waktu ujian pertama sudah selesai, beberapa lembar jawaban siswa dengan terpaksa dan penuh dengan emosi saya beri catatan, "Nyontek".

Setelah istirahat sejenak, ujian kedua dimulai. Jam kedua ini saya bertugas mengawas di ruang kedua, kebetulan ruang kedua berisi siswa dari kelas dengan tingkatan yang sama dan dari jurusan yang sama, otomatis soalnya semua sama. Timbul kekawatiran dalam diri saya bahwa akan terjadi contek menyontek yang lebih parah lagi sehingga saya mengingatkan siswa-siswa untuk bekerja sendiri-sendiri dan jujur. Menit-menit pertama berlangsung tertib dan tenang, kekawatiran saya agak berkurang. Lima belas menit berlalu, dua puluh menit berlalu, tiga puluh menit berlalu, waktu mengerjakan soal hampir satu jam tatkala saya melihat hal yang tidak mengenakkan hati seorang pendidik, dengan tenangnya beberapa orang siswa menyontek jawaban temannya. Saya mengingatkannya, ada yang mau mendengarkan dan ada yang tidak mau mendengarkan sama sekali. Saya tegur lagi, saya tegur lagi sampai berkali-kali, ternyata ada dua orang siswa yang tidak menghiraukan teguran saya sama sekali dan dengan enaknya menyontek pekerjaan temannya di depan mata saya. Saya tegur dengan keras tetap tidak menghiraukan, ingin rasanya saya mengambil lembar jawabannya dan menyilangnya atau merobeknya, tapi saya masih berpikir bahwa itu terlalu kasar. Saya masih berharap dua orang siswa itu akan sadar dengan teguran - teguran dan peringatan saya, tetapi ternyata tidak, bahkan menurut perasaan saya keduanya meledek dan meremehkan saya. Akhirnya saya mengambil lembar jawaban keduanya dan menuliskan beberapa kata diatasnya sebagai peringatan dan untuk diperhatikan oleh guru bidang studi.

Terus terang saya benar-benar emosi melihat tingkah laku beberapa siswa di ruang dua ini, sedih bercampur marah, merinding dan bergetar hati saya. Pertama memang sedih dan marah karena merasa dilecehkan dan disepelekan siswa karena seorang guru adalah juga seorang manusia, tetapi yang paling membuat sedih dan marah adalah kelakuan siswa yang dengan tanpa merasa malu menyontek pekerjaan temannya, seakan- akan menyontek adalah suatu hal yang biasa. Sepertinya belum menyadari perbuatan dosa, padahal saya yakin sebagian besar atau bahkan semuanya sudah menginjak usia dewasa, bukan anak baru gede lagi. Saya masih ingat pada waktu saya sekolah dulu, begitu tertanamnya di hati sebagian besar siswa bahwa menyontek adalah perbuatan yang hina, sehingga tanpa diawasipun pada waktu ujian jarang ada yang menyontek. Mengapa sekarang demikian. tapi saya masih berharap bahwa hal ini hanya ada di sekolah saya yang ini saja, tidak di sekolah lain.

Ya Allah, Ya Rabbi, selamatkanlah saya dan anak didik saya dari berbuat curang. Selamatkanlah saya dari ketidakjujuran agar saya mudah pula untuk mengajarkan kejujuran ke anak didik saya. Amiin, Ya Rabbal'alamiin.

22 April 2010

Belajar dari Pertengkaran

Ada satu kebiasaan baru yang dilakukan anak ketiga dan ke-empat kami yang awalnya membuat penasaran. Kedua anak ini lebih sering berbantah-bantahan dari pada anak pertama dan kedua kami dulu waktu seumur mereka. Hampir tiap hari ada saja yang membuat mereka berbantah-bantahan. Dan yang membuat penasaran kami pertengkaran mereka biasanya dilanjutkan dengan tukar-tukaran kertas. Karena tak dapat menahan rasa penasaran, suatu saat kertas yang habis mereka tukar-tukarkan itu saya ambil. Isinya membuat saya tersenyum ternyata kedua anak ini melanjutkan pertengkaran mereka di selembar kertas. Keduanya saling bergantian menulis tentang apa yang mereka pertentangkan. Satu sama lain ingin tahu sebab musabab perselisihan mereka. Adik ingin tahu mengapa kakak marah kepadanya, kakakpun ingin tahu mengapa adik juga marah kepadanya. Dan biasanya usai mereka tukar-tukaran tulisan, keduanya akan rukun kembali, bermain bersama lagi.

Kebiasaan baru kedua gadis kecil kami ini ternyata berdampak positif bagi perkembangan kemampuan anak ke-empat kami dalam menulis, membaca maupun menuangkan pikirannya. Akhirnyapun kamipun tidak terlalu banyak campur tangan bila kedua gadis kecil ini berselisih. Kepada anak ketiga, saya bilang, "Kakak ternyata dengan cara bertengkar seperti ini (sambil memperlihatkan kertas yang penuh tulisan tangan kedua gadis kecilku), adik belajar menulis dan membaca dengan tidak sengaja." Anak ketiga kami pun jadi senang karena merasa sudah membantu adiknya belajar menulis dan membaca. Keriuhan di rumah kamipun dapat berkurang dengan cara pertengkaran mereka seperti itu.

11 Februari 2010

Demi Kenaikan Pangkat, 1820 Guru Diduga Memalsukan Tanda Tangan

DPRD Provinsi Riau prihatin karena ada 1820 guru di provinsi tersebut yang diduga memalsukan tanda tangan pejabat berwenang dalam Penetapan Angka Kredit (PAK) sebagai dasar usulan kenaikan pangkat. Berita yang dimuat harian Republika ini mengingatkan saya pada teman guru saya yang berburu sertifikat seminar untuk sertifikasi guru. Bukan seminarnya yang diburu untuk menambah ilmu, tetapi sertifikatnya saja yang diburu untuk mengejar point pada sertifikasi. Jadi seminarnya tidak perlu ikut, yang penting dapat sertifikat walaupun harus membayar . Juga mengingatkan ke teman guru yang cerita bahwa gelarnya adalah S.Pd yang kepanjangan dari Sarjana Pemberian Dosen, maksudnya tidak usah repot-repot kuliah, gelar sarjana dapat diraih. Ada juga cerita teman guru yang mengarang data untuk kepentingan akreditasi sekolah. Atau teman guru yang sudah digaji lebih dari cukup oleh negara untuk menjadi guru di suatu sekolah setiap hari kerja tetapi masih mengajar di sekolah lain (bahkan kadang lebih dari 2 sekolah) pada jam kerja sekolah demi uang.

Setuju sekali saya dengan pernyataan pakar pendidikan Arief Rahman di harian Republika hari ini yang menilai bahwa sampai saat ini masih ada yang keliru dalam pendidikan di tanah air.Pak Arief meminta guru tak hanya mengajar, tapi juga proaktif mengembangkan sisi sosial kemasyarakatan dan moralitas di sekolah dan menjadikannya kultur sekolah.

Tetapi untuk mengembangkan moral siswa/peserta didik dan moralitas di tempat pendidikan tentunya harus dimulai dari moral pendidiknya dulu. Contoh yang paling mudah adalah mengapa sekarang banyak anak sekolah yang merokok?Ya karena banyak guru yang melarang siswanya merokok sementara dia sendiri merokok, sekolah membuat peraturan bahwa siswa dilarang merokok atau membawa rokok ke sekolah sementara banyak dari guru-gurunya yang dengan santainya merokok di sekolah. Banyak peserta didik yang senang jalan pintas pada waktu mengerjakan test atau ujian, ya karena banyak pendidik juga yang senang jalan pintas, salah satu contohnya kasus pemalsuan tanda tangan di provinsi Riau tersebut.

Menurut pembawa materi kepribadian menarik program Bagimu Guru Kupersembahkan Telkom-Republika, Leila Mona Ganiem, bahwa seorang guru harus mempunyai Brain, Behaviour dan Beauty, seorang guru adalah seorang pembelajar yang tekun, yang tiada henti untuk belajar, seorang guru adalah seorang yang memiliki kepribadian yang baik, seorang pribadi teladan, bukan hanya pengajar tapi adalah seorang pendidik, seorang guru adalah seorang yang berpenampilan baik, menyejukkan, penuh keramahan, kelembutan dan murah senyum. Tentunya perilaku dan penampilan seorang guru harus sesuai dengan ajaran agama.Semoga kita semua dapat menjadi guru/pendidik yang baik.

Math of The Day


Widgets and Templates

National Geographic POD

NASA Image of the Day

Bermain Sudoku.... Siapa Takut..?

Belanja...? Klik saja...