MER-C

13 Februari 2009

Anakku, maafkan mamamu

Awal bulan Desember 2008, putri ke empat saya Kamila ingin sekali ikut saya pergi ke acara arisan ibu-ibu di lingkungan RT. Pada awalnya saya tidak memperbolehkan karena biasanya kalau adiknya ikut pergi, kakaknya, yaitu putri ketiga saya, Safa, ingin ikut juga, dan terus terang saya sungkan dengan ibu-ibu yang lain terutama tuan rumah karena berarti harus memberi konsumsi lebih kepada saya. Tetapi akhirnya saya ijinkan Kamila ikut karena Safa ternyata lebih senang di rumah dengan ayahnya.

Kamila ikut pergi arisan dengan bergaya seperti ibu-ibu, membawa tas kecil saya di pundaknya.Di tempat arisanpun dia duduk manis seperti ibu-ibu. Ibu-ibu tersenyum melihatnya. Acara arisan dibuka dengan doa, ditentukan yang dapat arisan sekaligus yang menjadi tuan rumah arisan bulan Januari 2009. Acara ditutup dengan makan bersama, dan kamipun segera pulang karena waktu sudah mendekati waktu sholat maghrib.

Sampai di rumah Kamila bercerita kepada kakaknya tentang caranya arisan menurut pemahamannya dengan susunan kata-kata yang masih lucu sesuai dengan usianya. Dari ada ibu yang memegang gelas yang ditutupi plastik yang diikat karet, terus gelas dikocok-kocok sehingga keluar potongan sedotan yang di dalamnya ada gulungan kertas, lalu ada ibu lain yang membaca tulisan nama yang ada di gulungan kertas itu. Mendengar cerita Kamila kepada Safa, saya jadi tersadar bahwa saya telah salah sangka dengannya. Saya menyangka Kamila ingin ikut arisan karena ingin mencicipi suguhan kue, ternyata salah, dia ingin ikut karena dia ingin sekali tahu tentang arisan secara langsung. Kamila anakku, maafkan mama

10 Februari 2009

Melatih kesabaran dan ketekunan dengan persamaan matriks

Hari ini saya mengajar tentang penyelesaian sistem persamaan linear 3 variabel dengan matriks, saya sampaikan ke anak-anak (demikian saya suka menyebut murid-murid saya karena memang seusia anak-anak saya di rumah) bahwa sistem persamaan linear dengan 3 variabel juga dapat diselesaikan dengan persamaan matriks ataupun dengan aturan Cramer. Kebetulan kedua cara ini telah mereka pelajari dan mereka coba pada pertemuan sebelumnya untuk menyelesaikan sistem persamaan linear 2 variabel.

Setelah bersama-sama menyelesaikan contoh soal, mereka saya ajak untuk menyelesaikan soal yang lain dengan menggunakan kedua cara. Untuk menggunakan aturan Cramer rata-rata dari mereka tidak mengalami masalah. Tetapi untuk penyelesaian dengan persamaan matriks kebanyakan mengalami masalah, hanya segelintir anak yang tidak mengalami masalah. Masalah apa yang mereka hadapi?Mereka belum faham dalam menerapkan persamaan matriks? Tidak. Masalah yang mereka hadapi adalah kekurang tekunan dan kekurangsabaran, karena perhitungan pada persamaan matriks adalah perhitungan yang sederhana menurut mereka hanya perhitungan yang harus mereka lakukan cukup banyak. Sehingga untuk anak-anak yang kurang tekun dan sabar akan berhenti di tengah jalan, bukan karena tidak bisa tetapi karena kurang sabar dan tekun.

Ternyata dengan latihan menerapkan persamaan matriks pada penyelesaian sistem persamaan linear 3 variabel ini, guru dapat mengetahui mana siswa yang tekun dan sabar dan mana siswa yang kurang tekun dan kurang sabar. Dengan latihan tersebut siswa juga dapat berlatih ketekunan dan kesabaran, karena dua hal ini diperlukan untuk menyelesaikan soal dengan baik. Sambil mendampingi anak-anak menyelesaikan soal, saya sampaikan kepada mereka bahwa untuk menyelesaikan soal ini diperlukan ketekunan dan kesabaran tidak cukup kecerdasan, walaupun cerdas kalau tidak tekun dan sabar tidak akan dapat menyelesaikan soal ini dengan baik, demikian pula untuk dapat berhasil dalam hidup.

06 Februari 2009

Setiap Kamis Pagi Di Jalan Kota Tempat Tinggalku

Setiap hari Kamis, Jum'at dan sekarang ditambah hari Sabtu, saya ada tugas mengajar di sebuah SMA yang sebenarnya lokasinya dekat dari rumah.Tapi, meskipun dekat kadang butuh waktu lebih dari 30 menit untuk mencapainya. Apa penyebabnya? Kemacetan lalu lintas yang disebabkan oleh ketidaksabaran manusia.

Kebetulan setiap hari Kamis saya mengajar dari jam pertama yaitu jam 6.45, jadi saya harus berangkat pagi. Angkutan kota menjadi tumpuan saya untuk sampai di sekolah. Setiap Kamis pagi itu, begitu angkutan kota keluar dari jalan perumahan ke jalan raya yang menuju pusat kota akan dapat disaksikan banyak orang yang tergesa-gesa seakan-akan hanya dia sendiri yang harus segera sampai ke tujuan. Dari sopir angkutan kota, tukang ojek, pengendara sepeda motor, pengendara mobil pribadi, sampai pejalan kaki sepertinya ingin saling mendahului satu dengan yang lain. Pernah saya agak tersinggung dengan orang yang berjalan di belakang saya yang ingin mendahului saya yang sudah berjalan cepat sesuai kondisi jalan menurut saya dengan cara yang agak tidak sopan. Jadi setiap Kamis pagi itu bukan hanya mobil dan sepeda motor yang kena macet tetapi pejalan kakipun kadang sulit untuk berjalan karena selain badan jalan, tepi jalannyapun kadang dipenuhi kendaraan bermotor (pengendara sepeda motor) yang ingin cepat-cepat sampai tujuan. Kebetulan jalan menuju pusat kota dipotong oleh rel kereta api, sehingga akan dapat disaksikan kemacetan yang parah sebelum dan sesudah rel kereta jika ada kereta api yang baru saja lewat. Sebelum rel kereta badan jalan dipenuhi oleh kendaraan yang akan ke pusat kota sedang setelah rel kereta api badan jalan dipenuhi kendaraan yang dari pusat kota, jarang yang mau antri di belakang kendaraan lain (terutama pengendara sepeda motor).

Saya jadi berpikir, bagaimana dengan anak-anak di kota kecil ini? Hampir setiap hari disuguhi dengan ketergesa-gesaan, ketidaksabaran yang berujung pada ketidakdisiplinan. Naik angkutan kota, naik ojek atau diantar dengan sepeda motor oleh ayah,ibu atau saudaranya diajak nyrobot jalan jatah orang, naik mobil pribadi atau mobil jemputan sekolah terkadang tidak mau antri. Saya kuwatir hal ini akan dianggap sesuatu yang sudah biasa bagi anak-anak sehingga akan berpengaruh pada perilakunya kelak, karena sekarangpun sudah banyak terlihat banyak anak yang tidak disiplin dalam berlalulintas, anak-anak yang dengan tenangnya membuka palang pintu kereta api yang sudah ditutup karena ingin cepat-cepat melintas atau anak-anak yang tidak sabar antri untuk mendapatkan sesuatu di sekolah, atau yang dengan tenangnya melanggar aturan sekolah karena merasa tidak ada guru yang mengawasi.

Saya berharap suguhan ketidaktertiban berlalulintas yang mereka terima hampir setiap hari ini, tidak akan menjadikan mereka menjadi manusia-manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri, yang berpikir yang penting saya dapat, yang penting saya sampai, tidak peduli ada orang lain yang dirugikan.

Math of The Day


Widgets and Templates

Bermain Sudoku.... Siapa Takut..?

Belanja...? Klik saja...