15 Februari 2009

Etika Berjalan

Hari Selasa siang itu cuaca terang. Hujan yang sudah turun beberapa hari sudah tidak turun lagi siang itu. Saya bisa langsung pulang setelah selesai melaksanakan kewajiban mengajar. Karena tidak hujan saya pulang dengan jalan kaki, kebetulan sekolah tempat saya mengajar dekat dari rumah. Dengan berjalan kaki, saya bisa berjalan bersama murid-murid saya, sehingga menambah kedekatan dengan mereka.

Saya keluar pintu gerbang sekolah, banyak murid saya yang masih berada di jalan depan sekolah, suasana di jalan depan sekolah jadi ramai oleh anak-anak sekolah yang akan pulang. Belum seberapa jauh melangkah dari gerbang sekolah, saya di kejutkan oleh seorang bapak yang lagi tergeletak di jalan di antara keramaian anak-anak, saya bertanya ke beberapa murid yang berada di seberang jalan tidak jauh dari saya " Ada apa itu?, tapi merekapun tampaknya juga tidak tahu. Akhirnya saya berjalan mendekati bapak yang tergeletak di jalan itu, saya melihat kira kira 2 meter darinya ada sebuah sepeda motor. Alhamdulillah, sebelum saya sampai ke tempatnya, bapak yang tergeletak tersebut sudah bisa bangun sendiri. Saya cepat-cepat mendekatinya. Anak-anak yang tadi di sekitarnya sebagian sudah pergi. Saya merasa ada sesuatu yang salah dengan murid-murid saya yang menyebabkan bapak tersebut tergeletak di jalan sehingga saya perlu minta maaf ke bapak tersebut. "Ada apa Pak? Kena anak-anak ya Pak? Masih dengan sedikit marah ia menjawab bahwa anak-anak bercanda sembarangan di jalan, dia menghindari anak-anak tersebut supaya tidak tertabrak dan akhirnya malah dia yang terjatuh dari sepeda motornya.Karena begitu marahnya kepada anak anak yang membuatnya jatuh akhirnya keluar kata kotor dari mulutnya untuk anak-anak dan ini terdengar oleh anak-anak lain yang tidak tahu tentang kejadian tersebut. Kata-kata maaf yang akan saya sampaikanpun akhirnya saya lupakan. Kebetulan bapak tersebut juga langsung pergi dengan sepeda motornya, saya langsung pulang. Sambil berjalan saya bilang kepada anak-anak, "Nak, makanya kalau di jalan jangan bercanda sembarangan supaya tidak mencelakai orang. Tuh teman kamu bercanda sembarangan sehingga mencelakai orang jadinya ada kotoran yang keluar dari mulut deh. Tidak enak kan kita mendengarnya?"

Beberapa hari setelah kejadian itu, saya membuka-buka buku tentang pendidikan anak dalam Islam. Saya tersadar, selama ini ada hal yang terlupakan, pendidikan tentang etika berjalan di jalan umum tidak pernah saya sampaikan ke murid-murid . Padahal dalam buku "Wahai Ayah : Selamatkan Putra-Putrimu" karya Syaikh Muhammad Syakir yang diterjemahkan oleh Achmad Sunarto, pendidikan tentang etika berjalan di jalan umum itu adalah termasuk hal yang perlu disampaikan kepada anak-anak kita termasuk anak-anak didik. Nasehat beliau kepada murid-muridnya dalam bukunya antara lain adalah sebagai berikut " Dan hendaknya kamu tetap tenang dan menjaga kewibawaan. Maka tidak perlu berjalan tergesa-gesa dan jangan bersenda gurau di jalan. Dan jangan tertawa-tawa, kecuali sekedar senyum. Jangan suka mengganggu orang lainn di jalanan. Janganlah berjalan berjajar di jalan umum. Jika jalan itu lurus, maka cukuplah jalan dua-dua. Tetapi jika tidak demikian, maka jalanlah sendiri-sendiri yakni satu-satu. "

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Math of The Day


Widgets and Templates

National Geographic POD

NASA Image of the Day

Bermain Sudoku.... Siapa Takut..?

Belanja...? Klik saja...