04 Maret 2009

Flu Burung

Halaman pertama Harian Republika, Selasa 3 Maret 2009 tertulis berita dengan judul " Flu Burung Merajalela lagi. Dua orang anak dari kabupaten Bekasi dan Kota Depok hari Sabtu 28 Pebruari2009 meninggal dunia diduga karena flu burung. Ayah dari Nurliza Mahmudah anak berusia 5 tahun dari kota Depok, menceritakan bahwa sebelum anaknya sakit tiga ekor ayam milik tetangganya mati mendadak. Nurliza pada hari Rabu 18 Pebruari mengeluh sakit, kepalanya pusing dan tubuhnya panas. Panas tubuhnya mencapai 40 derajat Celcius. Pertama kali oleh sebuah klinik Nurliza diduga terkena tifus, kemudian diduga terkena demam berdarah dengue dan dirawat lima hari di RS Bhakti Yuda Depok.

Diberitakan juga bahwa di kota Depok ada laporan bahwa dari tanggal 11 Pebruari - 18 Pebruari 2009 ada 50 unggas yang mati. Akhir Pebruari di Purwakarta ada 150 ekor ayam mati. Di Takalar, Sulawesi Selatan hari Jum'at 27 Pebruari dilaporkan banyak unggas yang mati demikian pula di Bojonegoro Jawa Timur puluhan ayam mati mendadak..

Hari Rabu 4 Maret 2009, kembali Harian Republika memuat berita tentang flu burung dengan judul "Flu Burung Kian Menyebar". Diberitakan bahwa Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok menemukan delapan kasus kematian unggas dengan hasil rapid test positif pada kurun waktu Januari - Maret 2009.

Dua berita di koran itu menimbulkan tanda tanya pada diri saya. Mengapa sekarang ada wabah flu burung di mana-mana? Mengapa dulu tidak pernah terdengar ada wabah flu burung? Padahal ayam, itik, burung, mentok, angsa sudah dari jaman dahulu dipelihara orang di Indonesia. Apakah karena dulu berita belum begitu mudah tersebar?Sehingga tidak tersebar kemana-mana kalau ada kasus flu burung. Tetapi mengapa kasus wabah penyakit lainnya bisa tersebar beritanya, seperti pes, kolera, demam berdarah, TBC dan lain-lain. Atau karena cara pemeliharaan unggas banyak mengalami perubahan, baik dari segi makanan atau tempatnya. Dan karena perubahan cara pemeliharaan ini mengakibatkan juga pola hidup unggas berubah dan daya tahan tubuh unggas terhadap berbagai penyakit juga mengalami perubahan.

Di desa, tempat saya dilahirkan, dulu orang-orang pada memelihara ayam kampung, itik, mentok, angsa dan ada beberapa yang memelihara burung. Unggas yang paling banyak dipelihara pada waktu itu adalah ayam kampung. Biasanya kandang ayam itu ada di belakang rumah. Pagi dini hari, ayam kampung jantan akan membangunkan penghuni rumah dengan kokokannya. Dan penghuni rumahpun akan segera bangun untuk memulai aktivitasnya dan mengeluarkan ayam-ayam peliharaannya keluar kandang untuk mencari makan. Makanan mereka yang saya ingat adalah tepung dedak (tepung hasil samping dari penggilingan padi) atau jagung yang disediakan penghuni rumah atau makanan sisa orang, sayur-sayuran sisa atau kadang makan cacing. Orang-orang desa waktu itu belum mengenal makanan ayam pabrikan. Sore hari menjelang maghrib ayam-ayam itu akan kembali ke kandangnya, setelah berkeliaran dengan bebasnya bersama dengan anak-anak,teman-teman atau pasangannya di kebun atau di halaman rumah orang yang cukup luas.

Yang saya ingat waktu itu orang-orang di desa akan segera mengubur ayam-ayam yang kedapatan sudah mati. Mereka tidak mau memotong ayam yang sudah mati dan mengkonsumsinya, karena bertentangan dengan ajaran agama. Ayam yang terlindas kendaraan dan mati sebelum dipotongpun, mereka tidak mau mengkonsumsinya, apalagi yang kedapatan sudah mati karena sakit. Hanya satu dua orang yang mau makan ayam yang kedapatan sudah mati seperti ini. Orang-orang ini biasanya yang kurang sekali pengetahuan agamanya atau orang-orang yang hidupnya jauh dari agama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Math of The Day


Widgets and Templates

National Geographic POD

NASA Image of the Day

Bermain Sudoku.... Siapa Takut..?

Belanja...? Klik saja...